What Next?

Ada pertanyaan mendasar bagi akademisi dan praktisi PAUD, yaitu sosok individu anak seperti apa yang harus kita siapkan agar nantinya mereka bisa beradaptasi dan ambil peran di masa depan. Dalam mind set pembangunan PAUD, pernah dirilis bahwa kita harus menyiapkan generasi yang cerdas dan kompetitif di masa depan khususnya dalam menyambut 100 tahun Indonesia merdeka. Beragam teori perkembangan dan teori pembelajaran sudah dikembangkan di zamannya, dan masih dijadikan referensi dalam mengembangkan kurikulum dan pembelajaran baik di PGPAUD maupun di lembaga pendidikan. Semua itu hampir tidak terlepas dari beberapa tokoh PAUD seperti Piaget, Kilpatrick, Montessori, Vigotsky dan lain sebagainya. Masih relevankah di era teknologi digital dan artificial intelligent saat ini dan di masa depan?

Tantangan yang dihadapi di masa depan adalah semakin hilangnya lapangan pekerjaan yang mengandalkan tenaga manusia. Robotisasi dan pemanfaatan artificial intelligent akan memberangus lapangan kerja yang memerlukan tenaga manusia, sementara perkembangan demografi semakin meningkat mengikuti deret ukur. Jika pendidikan kita masih menghasilkan platform “mengemis pekerjaan”, maka akan menjadi bom waktu di masa yang akan datang. Antrean pelamar pekerjaan akan membludak, sementara lowongan pekerjaan semakin tergantikan teknologi. Dampaknya adalah pengangguran dan kriminalitas yang semakin meningkat. Hal ini tentu akan membahayakan bagi kelangsungan hidup generasi muda kita.

Kalau kita flash back ke teori Piaget, ada proses kognitif dimulai dengan adanya disequalibrium, asimilasi dan akomodasi. Dalam pembelajaran mulai anak usia dini perlu dibiasakan anak menghadapi permasalahan-permasalahan sebagai cerminan adanya ketidakseimbangan di lingkungan dan dalam dirinya. Hal ini menjadi starting point bagi anak untuk banyak berinteraksi dengan lingkungan “belajar dan sosial”nya, sehingga terkumpul skemata dalam struktur kognitif anak. Skemata tersebut akan semakin kuat jika anak memanfaatkannya dalam menghadapi situasi baru atau permasalahan yang ada. Oleh karena itu kedalaman proses belajar (deep learning), perlu menjadi mindset baru dalam mendidik anak. Konsep learning by playing masih sangat ditekankan dalam memfasilitasi perkembangan anak. Namun sampai saat itu masih banyak terjadi miskonsepsi baik dari kalangan akademisi maupun praktisi. Oleh karena itu perlu pemahaman bagaimana permainan itu dikembangkan, dan bukan permainan itu hanya untuk menyenangkan anak. Permainan konstruktif tentu sangat mendukung, dan dalam permainan seperti ini anak dibiasakan untuk berhadapan dengan masalah dan menyelesaikannya dengan sebuah permainak proyek yang konstruktif. Tetapi pada kenyataannya, model pembelajaran yang berlangsung di PAUD banyak menghasilkan generasi strowberi.  Skemata mereka bukan ada di otak anak tetapi di media digital dan artifisial intelligent. Ketergantunga tersebut ternyata juga mewabah sampai ke perguruan tinggi. Hal ini tercermin dari indeks prestasi yang tinggi, tetapi rentan dalam menghadapi permasalahan.

Pertanyaannya adalah apa yang dapat kita lakukan dalam pendidikan anak usia dini?  Pendidikan anak usia dini perlu melakukan terobosan baru yang barangkali saat ini terasa aneh dan janggal. Terobosanyang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Mengubah mindset pembelajaran, dari zona nyaman menuju ke zona tantangan. Tujuan pendidikan anak usia dini adalah menghasilkan generasi yang berkarakter dan mandiri melalui pembelajaran yang berbasis edupreneurship. Anak yang memiliki jiwa entrepreneurship adalah memiliki kedisiplinan yang tinggi, peka terhadap masalah, peluang dan tantangan, berkeseimbangan antara kemandirian dan kolaborasi dan terbiasa memili jejaring kerja (networking).
  2. Guru adalah inspirator dalam belajar di samping sebagai pendidik yang diteladani, yang siap menjadi pendamping dan pengarah anak.
  3. Implementasi deep learning dengan membiasakan anak untuk mengalami pembelajaran yang bermakna dan menantang kreativitasnya.
  4. Tata kelola lembaga berbasis edupreneurship, sehingga anak dan personal sekolah hidp dalam iklim edupreneur yang kondusif, sehingga anak-anak terbiasa dengan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan karakternya.
  5. Mengubah mindset sekolah sebagai lembaga formal akademik yang birokratis, seremonial dan dogmatis, menuju ke sistem kelembagaan yang demokratis, penuh dengan nuansa kolaborasi dan mengarah pada pengembangan aspek kognitif, sikap dan keterampilan yang lebih tinggi (HOTS), melalui pembelajaran berbasis masalah dan proyek.

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi bagi pembaca, dan secara laten memiliki pemikiran dan tindakan yang futuristik dan logis, sehingga generasi kita terlepas dari mindset sebagai “pengemis” tetapi sebagai “pencipta” lapangan kerja di zamannya kelak. (Opini ditulis oleh I Wayan Sutama, dosen PGPAUD Universitas Negeri Malang dan Divkominfo APGAUD Indonesia).